Showing posts with label Rafting. Show all posts
Showing posts with label Rafting. Show all posts

Sunday, 26 March 2023

Mapala Surya Rimba Membawa Pulang 2 Medali Di Kompetisi Mentari Rafting Competition Tingkat Mapala Jateng dan DIY

     Mentari Rafting Competition Tingkat Mapala Jateng dan DIY yang diselenggarakan oleh Mapala Rimba Raya Indonesia Universitas Muhammadiyah Magelang dalam rangka Milad Mentari Ke-40 Tahun. Acara ini dilaksanakan di Sungai Elo Kabupaten Magelang pada hari Kamis-Sabtu (9-11/03/2023).

                                    

Mapala Surya Rimba menurunkan 2 tim yaitu Ananda Bagas Kusuma, Bangkit Dito Pamungkas, Ikhsan Susanto, Hanan Muhammad Ihsan, Fathikul Amar Ma’ruf kategori R4 Putra dan Astri Julita Qomayro, Desy Puspita Sary, Desi Puspita Sary, Ela Kurnia Sari, Leni Istiqomah kategori R4 Putri untuk berkompetisi di ajang tersebut. Kompetisi ini diikuti sebanyak 19 tim yang berasal dari Mapala Jateng dan Mapala DIY.

Perjuangan Mapala Surya Rimba akhirnya mengumpulkan 2 medali. Yakni medali perunggu di kategori Sprint dan Head To Head R4 Putri. Ketua Umum Mapala Surya Rimba mengatakan “Alhamdulillah hasil yang membanggakan. Prestasi ini akan menjadi motivasi bagi atlet rafting Mapala Surya Rimba untuk terus menjadi yang terbaik dan membawa nama baik organisasi maupun kampus.” Ujar Muhammad Taufiq Syarif.

                              

Kompetisi ini sebagai wadah atau tempat mengasah kemampuan dan skill, meningkatkan keberanian, kepercayaan diri, dan meningkatkan kreativitas. Selain itu, sebagai ajang silaturahmi antar perguruan tinggi se-Jateng dan DIY. Tentu prestasi yang berhasil ini diraih tidak terlepas berkat dorongan dan kerja sama semua pihak.

                                 

Saturday, 24 September 2022

Sosial Budaya Dikjut Divisi Rafting Angkatan XXIII

       Desa penungkulan secara administratif berada di Kecamatan Gebang, Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia. Kondisi tanah perbukitan dan persawahan dengan mata pencaharian sebagai petani, peternak, pedagang, wiraswasta. Desa Penungkulan masuk ke wilayah Kelurahan Ngulosobo, di sini rata-rata penduduk adalah 200/ RT. Desa penungkulan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sendang Sari, di sisi sebelah timur ada Desa Sidoleren, bagian selatan berbatasan dengan Desa Kedung Poh, dan disisi sebelah utara berbatasan dengan Guntur.

       Untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di Penungkulan ini bermacam-macam, ada yang menjadi petani, guru, penjual hasil kebun, tetapi karena rata-rata disini adalah petani biasanya hasil dari sawah itu tidak sampai dijual ke orang lain, hanya cukup untuk kebutuhan rumah saja. Hal ini dikarenakan luas lahan yang mereka miliki hanya sedikit. Rata-rata pendidikan warga di Desa Penungkulan ini juga sudah seperti pada umumnya bersekolah sampai jenjang SLTA/sederajat bahkan ada yang ke perguruan tinggi. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan di Desa Penungkulan yaitu ada bidan, polindes, dan puskesmas. Puskesmas ini berjarak dari Desa Penungkulan kurang lebih 1 km. Di penungkulan ini rata-rata masyarakatnya menganut Agama Islam. Sedangkan untuk adat istiadat dan kesenian sendiri di Desa Penungkulan ini bisa kita jumpai kesenian kuda lumping dan ada group rebana atau hadroh.



 

 

 

 

 

 

        Tempuran Mas wilayah yang berada di dataran rendah, yang berada di Pedukuhan Tlepo dan sebelahnya adalah Pedukuhan Krandegan, Desa Kali Semo, Kecamatan Loano. Wilayah Tempuran Mas di sisi sebelah timur berbatasan dengan Desa Krandegan, batas di sebelah barat dengan Desa Jetis, di sisi sebelah selatan desa ini berbatasan dengan Trirejo, sedangkan sisi sebelah utara berbatasan dengan wilayah Maron. Rata-rata jumlah penduduk di sini kurang lebih ada sekitar 350 orang/RT.



       Di Tempuran Mas ini penduduknya rata-rata untuk memenuhi kebutuhan sehari adalah dengan menjadi buruh serabutan, seperti ada yang menjadi pencari batu, pencari buah kelapa, menjadi buruh bangunan dan masih banyak lagi. Hasil dari kebun biasanya di jual ke Pasar Crongoh. Di wilayah Tempuran Mas ini rata-rata masyarakatnya berpendidikan sudah umum seperti biasanya SLTA/sederajat bahkan sampai ke perguruan tinggi. Khususnya di dusun Tlepo sendiri terdapat perpustakaan dan TPQ yang dikelola pemuda pemudi karang taruna dan Ibu Etik selaku mantan kadus Tlepo. Kawasan Tempuran Mas untuk di bidang kesehatan juga punya puskesmas terdekat untuk fasilitas masyarakat, yaitu berada di Maron, Puskesmas Maron dengan jarak tempuh dari Tempuran Mas kurang lebih 1 km. Di Tempuran Mas ini juga rata-rata dalam hal kerohanian kebanyakan menganut Agama Islam, dengan satu masjid di wilayah ini yaitu Masjid Baiturahman.  Daerah ini memiliki makanan yang cukup unik, atau bisa kita bilang makanan khas yaitu tiwul atau thiwul adalah makanan pokok pengganti nasi beras yang dibuat dari ketela pohon atau singkong. 

 


       Sungai yang biasanya dibuat pengarungan di Tempuran Mas ini memiliki sejarah yang cukup unik, dimana zaman dahulu diwilayah sungai tersebut ditemukan emas yang cukup besar, emas ini yang kemudian dibawa ke museum jakarta. Kemudian pertemuan dua sungai yang menjadi satu, biasanya dinamakan tempuran. Di Tempuran Mas ini ada pertemuan dua sungai yaitu Sungai Kudil dan Sungai Bogowonto. Oleh karena itu wilayah ini diberi nama Tempuran Mas. Jika kalian berada di wilayah Tempuran Mas pasti akan melihat sebuah jembatan gantung yang menghubungan dua desa yaitu wilayah Tempuran Mas dengan Desa Krandegan. Jembatan ini dibangun pada tanggal 11 Mei 1995 yang dibagun oleh swadaya masyarakat. Dulu sebelum ada jembatan ini masyarakat ini untuk berlalu lalang kesana kemari menggunakan sampan yang terbuat dari bambu atau terkenal dengan sebutan gethek.

 



 

 

 

 

 

 

 

       Di Tempuran Mas ini masih memiliki adat dan kebiasaan yang masih dijaga seperti masih ada seperti larungan tetapi di sungai hal ini dilakukan pada saat bulan suro, hal ini bertujuan untuk seperti gambaran rasa syukur apa yang telah masyarakt dapat diambil seperti batu, dan masih diberi keselamatan dalam berkegiatan di sungai ini, karena satu minggu sekali dijadikan latihan pengarungan oleh FAJI. Yang bikin kami terkejut bahwa masyarakat sekitar sini masih ada yang percaya kepada selain Allah, disalah satu kuburan di Tempuran Mas terdapat pohon besar, pohon ini biasanya dijadikan tempat bertapa untuk meminta sesuatu. Jadi disini bisa dilihat bahwa kepercayaan diwilayah ini masih seperti zaman dahulu saat animisme.


 


Narasumber :

Bapak Slamet, Mbah Tinul, dan Bapak Hermanto

 



Sunday, 24 January 2021

Basic Training Mapala Surya Rimba Angkatan XXII "Buang Perbedaan, Satukan Kebersamaan, Kuatkan Persaudaraan"

    MAPALA SURYA RIMBA belum lama ini telah menyelenggarakan sebuah agenda tahunan yaitu kegiatan basic training angkatan ke-22 tahun 2021. Kegiatan terselenggara selama tiga hari yaitu pada tanggal 15-17 Januari (Jumat-Minggu) di lokasi area goa Seplawan. Kegiatan berhasil terselenggara setelah sebelumnya mengalami beberapa kendala. Mulai dari masalah birokrasi, masalah tempat, dan beberapa kendala lainnya. Namun pada akhirnya kegiatan dapat terselenggara dengan baik dan lancar. 

Pesrta basic training Mapala Surya Rimba angkatan XXII

  Peserta basic training berjumlah 16 anak,  dengan jumlah masing masing 10 anggota putri dan 6 anggota putra. Jumlah ini terkurasi melalui beberapa rangkaian seleksi yang diadaka. Mulai dari technical meeting, training center yang diadakan seminggu sebanyak tiga kali, materi ruang empat divisi, dan beberapa seleksi turut dijalani sebelum mereka mengikuti kegiatan basic training.

Pembina Mapala Surya Rimba (bpk. Hermawan, M.Pd. I) sedang memberkan materi dan arahaan kepada peserta basic training

 Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri langsung oleh pembina mapasuri  bpk.Hermawan, M.Pd. I beliau memberikan pesan kepada peserta bahwa kita tetap harus beraktifitas walaupun di tengah pandemi dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ada, dan juga beliau menekankan untuk tetap menjalankan ibadah pada saat kegiatan berlangsung. Kemudian dilanjutkan materi keorganisasian yang diisi oleh saudara Usman Azis dan Adamas Hamid A selaku ketua umum Mapasuri.

Peserta sedang mengaplikasikan materi pembuatan api

Prosesi pelantikan peserta basic training Mapala Surya Rimba

    Kemudian setelah pembukanan selesai dilanjutkan dengan pemberangkatan peserta menuju lokasi kegiatan, setelah sampai dilokasi peserta langsung mengikuti kegiatan sampai tanggal 17 Januari. Di hari terakhir kegiatan ditutup dengan pelantikan peserta basic training menjadi anggota muda Mapala Surya Rimba, dan juga dilanjut dengan sesi foto bersama.

    "melalui kegiatan basic training tersebut saya berharap semoga seluruh peserta bisa mengambil pelajaran positif yang ada, dan semoga hal tersebut bisa menjadi bekal untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik."_written

 


     

Sunday, 14 May 2017

ERATKAN TALI SILATURAHMI, MAPALA PTM SE-JATENG & DIY RAFTING DI SUNGAI BOGOWONTO

Forum Sarasehan
PURWOREJO. Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Jateng & Diy laksanakan pertemuan rutin guna mempererat tali silaturahmi dengan kegiatan Sarasehan dan Rafting di Purworejo. (13/05)

Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Perguruan Tinggi Muhammdiyah (PTM) se-Jateng & Diy yang tergabung dalam Rayon IV menyambangi Kota Purworejo khususnya Sekretariat Mapala Surya Rimba (Mapasuri) Universitas Muhammadiyah Purworejo guna bersilaturahmi dan berbagi ilmu tentang dunia kepencintalaman. Rapat Rayon adalah pertemuan rutin 3 bulan sekali yang diusung oleh anggota Mapala PTM Rayon IV yang beranggotakan 11 organisasi Mapala dari masing-masing PTM di Jateng & Diy, seperti Purworejo, Magelang, Semarang, Jogja, Kebumen, Purwokerto, Solo dan Pekalongan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Sabtu-Minggu, 13-14 Mei 2017 dengan tema “Bersama Rayon IV Mari Kita Tingkatkan Solidaritas”.

Pada kesempatan kali ini Mapasuri Universitas Muhammadiyah Purworejo berkesempatan menjadi tuan rumah pertemuan Rayon IV dengan kegiatan Sarasehan dan Rafting di Sungai Bogowonto. Forum Sarasehan adalah forum dimana delegasi dari masing-masing Organisasi Pecinta Alam (OPA) berdiskusi membahas segala issue lingkungan yang terjadi beserta aksi nyatanya, selain itu forum sarasehan juga dipakai untuk berbagi ilmu agar menyamaratakan pengetahuan tentang dunia pecinta alam bagi masing-masing OPA. Dalam kegiatan kali ini dihadiri oleh 8 OPA, yaitu MALIMPA UMS, MAPALA UMY, MPA HIMALAYA UNIMUS, MAPALA Satria Batik Pekalongan, KANPAS Pekalongan, MAPALA SATRIA UM Purwokerto, PALASIGO STIKES MUH. Gombong, MAPALA MENTARI UM Magelang dan tuan rumah Mapasuri UM Purworejo. Setelah kegiatan sarasehan, minggu pagi (14/05) dilanjut dengan kegiatan Rafting di Sungai Bogowonto.

“Tujuan dari kegiatan Rafting ini adalah untuk berbagi pengetahuan, share pengalaman dan juga memperkenalkan potensi sungai untuk melaksanakan kegiatan olah raga arung jeram kepada masyarakat di luar Kota Purworejo khususnya MAPALA” ujar Selvie Isna Rojikin, selaku Ketua Umum Mapasuri.

Kegiatan secara keseluruhan berjalan dengan lancar meskipun pada saat Rafting sedikit mendapat kendala karena debit air Sungai Bogowonto kurang bagus karena beberapa hari terakhir Purworejo tidak di guyur hujan. (Usman)

Rafting di Sungai Bogowonto


#Akun media sosial resmi MAPASURI
facebook  : Mapasuri UM Purworejo
fans page : Mapasuri
twitter      : @mapasuri
instagram: @mapalasuryarimba_
email       : mapala_surya_rimba@yahoo.com
youtube   : Mapala Surya Rimba
blog      : mapasuriumpwr.blogspot.co.id

...