Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Sunday, 19 November 2023

PENDAKIAN BERSAMA CALON ANGGOTA MAPALA SURYA RIMBA ANGKATAN XXV GUNUNG PRAU VIA DIENG


Dalam rangka penerimaan Calon Anggota Mapala Surya Rimba Angkatan XXV, Panitia Pendidikan dan Latihan Dasar Mapala Surya Rimba Angkatan XXV menyelenggarakan Pendakian Bersama. Kegiatan ini dilaksanakan di Gunung Prau Via Dieng, Kabupaten Wonosobo (18-19/11/2023).

Pemberangkatan dilaksanakan dari Sekretariat Mapala Surya Rimba pada hari Sabtu pukul 11.00 WIB perjalanan ditempuh 2 jam. Registrasi di Gunung Prau Via Dieng tergolong relatif murah yaitu Rp 30.000/orang.

“Kegiatan ini di ikuti oleh 12 Calon Anggota dan 4 Panitia Pendidikan dan Latihan Dasar Angkatan XXV.” Ujar Ketua Panitia Pendidikan dan Latihan Dasar Mapala Surya Rimba Angkatan XXV Putri Amelia.

Pendakian gunung, panjat gunung, atau alpinisme adalah serangkaian aktivitas luar ruangan yang melibatkan mendaki gunung. Untuk mendaki Gunung Prau Via Dieng menghabiskan waktu 2-3 jam. Jalur pendakian Via Dieng tidak memiliki sumber air dan terdapat 3 pos dalam jalur ini, yaitu Pos 1 Gamekan waktu yang dapat ditempuh 10-15 menit, Pos 2 Semendung waktu yang dapat ditempuh 30-45 menit, dan Pos 3 waktu yang dapat ditempuh 1-2 jam perjalanan menuju pos 3 membutuhkan waktu tempuh paling lama karena rutenya yang cukup panjang.

                        


 “Pendakian bersama merupakan rangkain kegiatan penerimaan calon Anggota Mapala Surya Rimba Angkatan XXV yang mempunyai tujuan untuk memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang ada di Mapala Surya Rimba, selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk menjalin kebersamaan dan keakraban dari masing-masing calon anggota.” Ujar Ketua Umum Mapala Surya Rimba Sofi Prasetyo Aji

Peserta kegiatan pendakian bersama sangat antusias dan penuh semangat, kegiatan ini dikemas bukan hanya untuk memperkenalkan keindahan alam, namun diadakannya permainan yang bertujuan untuk menjalin kebersaman dan keakraban. Kegiatan ini selesai pada pukul 17.00 WIB pulang dengan selamat dan gembira.

 

 

Wednesday, 16 December 2020

Mengenal Lebih Dekat dan Meneladani Kisah Hidup Seorang Aktifis Muda"Soe Hok Gie"


  Kekagumanku terhadap seorang sosok Soe Hok Gie berawal dari diriku yang tak sengaja menonton film biografinya yang berjudul GIE. Aku yang  kala itu masih duduk di bangku SMP langsung kagum melihat penggambaran tokoh di film yang saat itu juga diperankan aktor ternama Nicolas Saputra. Tak hanya mengagumi melalu filmnya, selang beberapa tahun saat aku beranjak ke bangku kuliah aku membeli sebuah buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yang juga merupakan buku novel yang berisi kisah perjuangan Soe Hok Gie saat ia menjadi aktifis di usia muda hingga saat-saat terakhir sebelum ia menemui ajalnya di puncak gunung semeru. Itu hanya sedikit gambarang tentang kekagumanku terhadap Soe Hok Gie, tapi untuk lebih mengenal sosoknya aku akan membagikan kisah biografi singkat yang bisa teman-teman baca.

Biografi Soe Hok Gie

    Soe Hok Gie merupakan keturunan Tionghoa yang lahir pada 17 Desember  1942.  Ia adalah putra dari Soe Lie Pit atau dikenal dengan nama Salam Sutrawan seorang novelis, dan ibunya bernama Nio Hoe An. Dalam biografi Soe Hok Gie bahwa ia adalah anak keempat dari lima bersaudara, Soe Hok Gie merupakan adik dari Sie Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Masa kecil Soe Hok Gie

    Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djie sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman baca di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seorang peneliti, sejak masih sekolah dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya yang serius, seperti karya Pramudya Ananta Toer. Mungkin juga karna ayahnya seorang penulis, sehingga tak heran jika ia begitu dekat dengan sastra. Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk konisius, sementara soe hok gie memilih sekolah di sekoalh menengah pertama (SMP) strada di daerah Gambir.

Masa remaja Soe Hok Gie

    Konon ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan cerpen Pramudya: "..Cerita dari Blora". Pada waktu kelas dua di sekolah menengah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi soe hok gie? ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah daripada harus duduk di bangku sekolah. Sebuah sekolah kristen protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang. Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) kanisius jurusan sastra. Sedanhgkan kakaknya, Hok Djin, juga masuk sekolah yang sama, tapi lain jurusan yaitu ilmu alam. Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus ia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadara berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan yang menarik itu, tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Masa Kuliah di Universitas Indonesia

    Ada hal baik yang diukurnya selama ia menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kaka berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemudian kaka beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah, sedangkan Hok Djin mask ke fakultas psikologi. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktifis kemahasiswaan.

Kritis Terhadap Pemerintah

    Ketika kuliah di UI, ia banyak mengkritisi kebijakan Presiden Ir Soekarno. Selain itu ia juga banyak mengkritisi  mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kala itu sangat berkembang di Indonesia. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengkritik tajam rezim orde baru. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisannya mengenai pembantaian masal terhadap anggota dan simpatisan PKI pasca G30S/PKI pecah. Ia menuliskan artikel "Di sekitar pembunuhan besar-besaran di Pulai Bali" yang kemudian diterbitkan oleh mahasiswa Indonesia Jawa Barat pada bulan Desember 1967. 

Dalam pemikiran Soe Hok Gie, ia mengkritisi cara-cara pemerintah orde baru yang menindak anggota dan simpatisan PKI dengan cara-cara diluar kemanusiaan. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstran tahun 66 mengkritik dan mengkutuk para pejabat pemerintah kemudian selepass mereka lulus mereka berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie merupakan bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Pendiri MAPALA UI yang Hobi Naik Gunung

    Soe Hok Gie diketahui merupakan salah satu tokoh pendiri UI. Salah satu agenda pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian Gunung Slamet 3.442mdpl, ia mengutip Walt Whitman dalam catatn hariannya "...Now I see secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth". Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran pikiran tentang kemanusiaan tentang hidup, cinta, dan juga kematian. Dalam biografi Soe Hok Gie diketahui bahwa pada tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan melanjutkan menjadi dosen di Almamaternya. Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukan gunug Semeru yang tingginya 3.676mdpl. 

    Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: "...Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya dengan slogan. patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. karena itulah kami naik gunung".

 Wafatnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru

    Tanggal 8 Desember sebelum Soe Hok Gie berangkat sempat menulis catatannya : "...Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengan kematian Kian Fong dari Arief minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngibrol rumit sebelum ke semeru. Dengan Marai, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kiang Fong yang begitu aneh dan begitu cepat". Hok Gie meninggal di gunung Semeru pada tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahun yang ke-27. Penyebab kematian Soe Hok Gie akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. 


       Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahu 1975 Ali Sadikin membungkar pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebar di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di gunung Pangrango. 

    Berikut merupakan Sedikit kisah hidup dari Soe Hok Gie semoga dapat menginspirasi buat teman-teman pembaca. 

 

 

Sumber : Biografiku




Tuesday, 6 September 2016

SEJARAH SINGKAT MAPALA SURYA RIMBA

Mahasiswa Pecinta Alam atau yang biasa disebut MAPALA adalah salah satu Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) yang berada dibawah naungan Universitas Muhammadiyah Purworejo. Nama Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam di Universitas Muhammadiyah Purworejo adalah SURYA RIMBA, selanjutnya disebut Mapala Surya Rimba atau di singkat MAPASURI. Atas prakarsa 5 pemuda/i membentuk sebuah wadah untuk menyalurkan minat atau hobi para Mahasiswa yang tertarik dengan dunia petualangan, alam bebas serta kecintaan mereka terhadap Alam, maka secara resmi pada tanggal 5 September 1998 terbentuklah Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam di Universitas Muhammadiyah Purworejo dengan nama SURYA RIMBA. Kata SURYA menandakan ikon atau identitas dari Universitas Muhammadiyah Purworejo, bukan hanya UKM Mapala, UKM yang berada di Kampus diberikan nama SURYA, sedangkan kata RIMBA karena kita berkegiatan di Alam dan nama itu identik dengan Alam. Adapun 5 pemuda/i yang kami sebut sebagai perintis  yaitu:

1. Moh. Bakir
2. Dani Istiharto
3. Budi Sudarmaji
4. Daryanto
5. Lestari

MAKNA LAMBANG MAPALA SURYA RIMBA


1.          Lambang Mapala Surya Rimba adalah gambar-gambar yang merupakan pencerminan dari identitas Mapala Surya Rimba, yaitu sebagai berikut :

a.      Matahari
Melambangkan bahwa Mapala Surya Rimba diharapkan mempunyai sifat rela berkorban tanpa pamrih seperti halnya Matahari yang tulus menyinari alam semesta.

b.    Gunung
Melambangkan bahwa Mapala Surya Rimba diharapkan dapat menjaga kelestarian Alam.

c.      Dua jejak kaki Manusia
Melambangkan bahwa Mapala Surya Rimba diharapkan pantang mengenal lelah dalam menjalankan tugas.

d.      Bendera Merah Putih
Melambangkan bahwa Mapala Surya Rimba diharapkan dapat mengharumkan nama Bangsa.

e.      Tulisan MAPASURI
           Tulisan MAPASURI adalah nama Organisasi.

f.      Tali Hitam
Melambangkan bahwa ikatan persaudaraan untuk menyatukan tekad dalam mewujudkan cita-cita Mapala Surya Rimba.

2.       Warna Biru melambangkan bahwa Mapala Surya Rimba Cinta Damai.


VISI, MISI DAN TUJUAN MAPALA SURYA RIMBA

       Visi organisasi Mapala Surya Rimba adalah :
      1.   Menjunjung tinggi kehidupan alam semesta untuk tetap memelihara, menjaga dan melestarikan            alam sesuai dengan fungsinya;
 2.    Pada diri setiap anggota tertanam tanggungjawab yang tinggi menyangkut norma-norma yang berlaku pada masyarakat berlandaskan akhlak yang baik, berbudi pekerti yang baik, berjiwa idealis dan intelektual.

       Misi organisasi Mapala Surya Rimba adalah :
  1.        Menjaga dan melestarikan alam sesuai dengan fungsinya;
  2.        Meningkatkan potensi kemampuan sumber daya manusia untuk berjiwa idealis, berwawasan    luas, bertanggungjawab dan berakhlak baik;
        3.    Memberikan motivasi dan kemampuan ke setiap anggota untuk menyalurkan minat dan                        bakat melainkan juga untuk penggalian ilmu yang didapat dari luar kurikulum akademik.

       Tujuan organisasi Mapala Surya Rimba adalah :
        1.      Membina dan mengembangkan minat dan bakat dibidang kepecintaalaman;
  2.      Memupuk rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan kelestarian alam;
  3.      Mengembangkan sikap ilmiah, kritis dan analisis serta kepekaan terhadap lingkungan;
  4.      Melatih dan mengembangkan kapasitas anggota dalam berorganisasi.





#Akun media sosial resmi MAPASURI
facebook  : Mapasuri UM Purworejo
fans page : Mapasuri
twitter      : @mapasuri
instagram: @mapalasuryarimba_
email       : mapala_surya_rimba@yahoo.com
youtube   : Mapala Surya Rimba