Friday, 14 January 2022

Sosial Budaya dan Pengamatan Alam Bebas (PAB) Goa Seplawan

 Sosial Budaya dan Pengamatan Alam Bebas (PAB) Goa Seplawan

    Goa Seplawan adalah goa yang berada di kawasan Perbukitan Menoreh Selatan tepatnya di Dusun Katerban, Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kulonprogo di Yogyakarta. Goa yang berada di kaki pegunungan ini merupakan peninggalan zaman pra sejarah yang memiliki panjang sekitar 700 meter. Terbukti dengan ditemukannya arca sepasang Dewa Dewi yaitu Dewa Siwa dan Dewi Parwati pada bulan Agustus tahun 1979 di salah satu sudut goa. Arca ini memiliki emas 22 karat setinggi 9 cm dengan berat 2,5 kg. Saat ini arca yang asli masih ada dan ditempatkan di Museum Nasional. Walaupun tidak dapat melihat yang asli, sebelum memasuki goa kita akan disambut patung emas setinggi 3 meter. Patung tersebut merupakan replika dari arca Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Tidak hanya arca, di goa ini juga ditemukan Lingga Yoni yang diyakini sebagai lambang kemakmuran dan kesuburan. Saat ini Goa Seplawan dijadikan sebagai tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh warga sekitar bahkan warga, luar kota, dan bahkan wisatawan asing. Jam bukanya mulai dari pukul 08.00 pagi. Untuk administrasinya setiap orang dikenakan tiket masuk Rp. 5.000 pada hari biasa dan Rp. 7.000 pada hari Minggu dan tanggal merah. 

    Ketika masuk di mulut goa, pengunjung dianjurkan untuk mengenakan sepatu boots dan helm pelindung. pengunjung juga dilarang meninggalkan sampah dan mengambil sesuatu di dalam goa. Saat masuk ke dalam goa akan disambut dengan jalan datar dengan sesekali terdapat aliran air layaknya sungai. Kita dapat melewatinya dengan berdiri tegak atau berjalan seperti biasanya atau juga menggunakan teknik duck walking yang artinya jalan jongkok dengan satu tangan dijulurkan ke depan. Lorong pada gua ini termasuk ke jenis lorong vadose yang artinya lorong yang sebagian dari lorong tersebut dialiri air dan termasuk lorong goa duck yang artinya lorong goa yang menyempit ke atap atau ke bawah yang biasanya terdeposi oleh lumpur . Pengunjung juga harus menundukkan kepalanya karena lorong ini memiliki ketinggian yang sempit. 


Usai melewati jalur sempit tersebut, akan menemukan pemandangan yang indah dari stalaktit dan stalakmit yang luar biasa mempesona. Tidak hanya itu, terdapat juga ornamenornamen seperti flowstone, helekit, pilar, sodastraw, dan gourdam. Di dalam goa sendiri terdapat hewan yang dapat di temui seperti kelelawar, udang, dan jangkrik. Namun jumlahnya tidak begitu banyak. Karena jalur goa tersebut buntu, saat kembali kita harus melewati jalan yang sama seperti saat berangkat. 


Sumber :

1. Bapak Arjuna (Pengelola Goa Seplawan)  

2. Bapak Slamet (Pengelola Goa Seplawan) 

Penemuan Flora dan Fauna 

➢ Flora :  Pohon Kelapa ,Pakis , Beringin, Bunga Sepatu. Bunga Flamboyan, Lumut, Paku-pakuan,  Pohon Mahoni, Talas, Pohon Pisang, Rumput, Pohon Aren, Palem, Puring, Teh-tehan. 

➢ Fauna : Semut, Ulat Bulu, Tupai, Burung Emprit, Laba-laba, Kupu-kupu, Belalang, Kelelawar - Udang, Jangkrik Goa, Capung.


Data diambil pada tanggal 10 Desember 2021 oleh tim diklatsar kelompok 2 Mapala Surya Rimba.

Sunday, 9 May 2021

KEGIATAN RAMADHAN MAPALA SURYA RIMBA (MAPASURI BERBAGI)

KEGIATAN RAMADHAN MAPALA SURYA RIMBA

(MAPASURI BERBAGI)

 

Hallo rekan - rekan pecinta alam, kembali lagi berjumpa dengan tulisan dari salah satu tim panitia kegiatan dalam organisasi Mapala Surya Rimba Universitas Muhammadiyah Purworejo. Kali ini di bulan suci ramadhan Mapala Surya Rimba kembali mengadakan suatu kegiatan. Dalam kegiatan tersebut terdiri dari berbagai rangakaian diantaranya bukber mapasuri, kajian ramadhan, dan bagi sembako.

Kegiatan tak lengkap rasanya tanpa tim panitia, pada minggu kedua di bulan April 2021 tim panitia mulai dibentuk. Setelah terjadi beberapa kali rapat akhirnya diputuskan dalam kegiatan ramadhan kali ini kita akan membuat suatu kegiatan yang cukup berbeda dari tahun – tahun sebelumnya. Pada tanggal 28 April 2021 kita mengadakan kegiatan yang pertama yaitu “Bukber Mapasuri”. Dalam kegiatan tersebut tidak hanya berbuka biasa, kita juga ada pembacaan ayat suci Al – Qur’an 30 juz yang dibaca oleh anggota Mapala Surya Rimba yang hadir pada acara tersebut. Kegiatan bukber mapasuri diakhiri dengan sholat tarawih berjamaah di sekretariat Mapala Surya Rimba.




Kegiatan selanjutnya yaitu pada tanggal 1 Mei 2021 kita mengadakan “Kajian Ramadhan”. Acara tersebut tak hanya anggota Mapala Surya Rimba yang hadir namun juga dihadiri oleh perwakilan seluruh UKM dan HIMA yang ada di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Dalam acara tersebut di isi oleh Ustad Nif’an Nazudi M. Ag dan juga turut dimeriahkan oleh UKM JQH. Acara tersebut kita laksanakan di halaman depan gedung UKM, Kampus Timur, Universitas Muhammadiyah Purworejo. Karena saat ini masih pandemi jadi kami dari tim panitia menyediakan tempat cuci tangan, masker dan juga hand sanitizer. Ketika sebelum mengisi daftar hadir para undangan kami arahkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu dan kami juga melakukan cek suhu badan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Acara tersebut berjalan dengan lancar dan kami berharap dengan adanya acara Kajian Mapasuri dapat lebih mempererat tali silaturahmi dan juga meningkatkan keimanan bagi kita semua di bulan ramadhan ini.


Acara selanjutnya yaitu pembagian sembako pada tanggal 6 dan 7 Mei 2021. Pembagian sembako tersebut di daerah Plaosan , Purworejo, tepatnya untuk warga yang berhak menerima di RT 01 / RW 14, RT 02 / RW 14, RT 03 / RW 14, RT 04 / RW 14, RT 03 / RW 17, RT 04 / RW 17. Sebelum acara tersebut kami laksanakan kami juga melakukan penggalangan donasi dari tanggal 22 April – 1 Mei 2021. Penggalanagan donasi tersebut kami lakukan mulai dari Hima dan UKM universitas Muhammadiyah Purworejo, dosen dan karyawan Universitas Muhammadiyah Purworejo, Masyarakat Purworejo, dan juga dari rekan – rekan anggota Mapala Surya Rimba. Total donasi yang kami dapat yaitu sejumlah Rp. 9. 680.000,00, selanjutnya dari donasi tersebut kami belikan paket sembako sebanyak 61 paket. Dalam acara pembagian sembako rekan-rekan HIMA dan UKM juga turut membantu dalam pembagian paket sembako tersebut. Walaupun dalam kondisi berpuasa dan cuaca yang cukup panas, rekan-rekan HIMA dan UKM serta tim panitia tetap semangat membagikannya. Untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan karena kita langung ke rumah warga, kami dari tim panitia juga menyedikan hand sanitizer, masker dan juga sarung tangan. Acara tersebut berjalan dengan lancar dan kami berharap semoga dapat memberikan keberkahan bagi kita semua. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak termakasih kepada semua donatur dan pihak – pihak yang telah membantu kami sehingga dalam acara kegiatan ramadhan “MAPASURI BERBAGI” kali ini dapat berjalan sangat lancar.






Demikiankah sedikit tulisan dari kami, sampai jumpa di kegiatan selanjutnya. Tetap semangat untuk menebar kebaikan, SALAM LESTARI!

Wednesday, 28 April 2021

SOSIAL BUDAYA DIVISI RAFTING

 

SOSIAL BUDAYA DIVISI RAFTING

Kawasan Tempuran Mas berlokasi di Pedukuhan Tlepo dan Pedukuhan Krandegan, Desa Kali Semo, Kecamatan Loano. Dikawasan Tempuran Mas sendiri terdapat sebuah jembatan dengan panjang 120 M. Batas wilayahnya yaitu batas timur Krandegan, barat Gembulan, utara Mudal rejo, selatan Loano wetan dan memiliki jumlah warga kurang lebih 400 orang


Rata – rata pendidikan masyarakat di kawasan tempuran mas sampai ke jenjang SMP, SMA / SMK bahkan Kuliah dan khususnya di dusun Tlepo sendiri terdapat perpustakaan  dan TPQ yang dikelola pemuda pemudi karang taruna dan Ibu Etik selaku mantan kadus Tlepo. Mata pencaharian warga sekitar tempuran mas mayoritas petani, buruh serabutan, dan pencari batu, untuk hasil buminya tersebut akan dijual kepada perorangan maupun pengepul . Kawasan tempuran mas sendiri memiliki puskesmas terdekat yaitu puskesmas maron dengan jarak tempuh antara tempuran mas ke puskesmas kurang lebih 1 km. Dari segi keagamaan mayoritas masyarakat tempuran mas beragama Islam dan disekitar kawasan tersebut terdapat 1 masjid dan 1 mushola


Sungai bogowonto yang terletak di kawasan Tempuran Mas mempunyai sejarah yang cukup unik dimana pada jaman dahulu di daerah tersebut ditemukan sebuah emas berupa kendil, kemudian emas tersebut disimpan di museum, dari situlah nama tempuran mas berasal

Jembatan Tempuran Mas dibangun tanggal 11 Mei 1995, sebelum jembatan tersebut dibangun alat transportasi untuk menyeberang warga sekitar yaitu menggunakan gethek yang di operasikan oleh Mak Timus beserta keluarganya dengan tarif seikhlasnya, di lokasi tersebut Mak Timus juga membuka warung yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman yang biasa digunakan untuk istirahat pada saat melakukan latihan arum jeram.


Untuk tradisi adat istiadat dikawasan tempuran mas seperti memperingati bulan Sura dengan ritual mandi disungai pada malam Jumat Kliwon, bulan Muharam yang bertepatan pada 10 sura, ziarah makam Mbah Nyai Tlepo serta pengajian setiap Ahad Wage dan Jumat Kliwon, sampai sekarang masih dilakukan


Desa Penungkulan berada di kecamatan gebang dengan batas wilayahnya yaitu batas timur Sendang Sari, barat Sido Leren, utara Guntur, selatan Ndumpo. Desa Pneungkulan memiliki warga kurang lebih sekitar 2000 jiwa. Rata rata pendidikan masyarakat di desa Penungkulan sudah sampai SMP, SMA / SMK dan Kuliah. Mata pencahariaan Masyarakat didesa Penungkulan rata-rata sebagai petani. Tanaman yang biasa ditanam berupa padi, pohon kelapa, dan pohon pisang. Untuk hasil panennya sendiri ada yang dikomsumsi sendiri dan ada juga yang dijual ke pengempul.

Fasilitas kesehatan didesa Penungkulan yaitu bidan, polindes, dan puskesmas terdekat yaitu puskesmas bener dengan jarak tempuh antara strart point ke puskesmas berjarak kurang lebih 1 km, dari segi keagamaan mayoritas masyarakat Penungkulan beragama Islam dan dikawasan tersebut terdapat tempat ibadah 1 masjid dan 4 mushola.

Untuk adat istiadat didesa Penungkulan sudah tidak pernah dijalankan tetapi untuk tradisi keagamaan seperti pengajian, Fatayat, muslimah dan tradisi kesenian seperti Hadroh dan kuda lumping sampai sekarang masih dilakukan

 

Sumber :

 1. Ibu Wariyanti ( Warga Pedukuhan Tlepo )

 2. Ibu Etik ( Ibu RT Pedukuhan Tlepo )

 3. Mak Timus ( Pedagang setempat )

 4. Ibu Sadiyah ( Warga Desa Penungkulan )

 

Cerita Perjalanan Divisi Rafting Angkatan XXII

 

Cerita Perjalanan Divisi Rafting Angkatan XXII

 

Kamis,18 Maret 2021

Hallo, Assalamualaikum saudara-saudara sekalian aku ingin membagikan sepenggal kisah ku yang akan melaksanakan kegiatan Dikjut.Malam hari aku mempersiapkan barang yang akan dibawa saat dikjut namun tidak semuanya terlaksana dengan baik karena aku ngantuk berat meski dipaksa tidak tidur sebelum menyelesaikan barang bawaan tapi aku tidak kuat alhasil tidur lebih awal. Pagi-pagi sekali aku bangun pukul 05.00WIB aku packing barang bawaan, sekitar pukul tujuh lebih sedikit sampai disekre aku kira semua sudah berkumpul tapi masih ada beberapa anggota yang belum datang,kulihat anggota lain menggunakan tas yang berukuran sedang, dalam hati aku berkata"Haduh salah tas, tapi tak apa muat banyak buat bawa alat masak" hehe".Jam terus berputar aku menunggu anggota, senior yang lain yang berdatangan dan siap-siap untuk sarapan pagi,selesai sarapan pagi semua anggota dan senior berangkat ke gedung PDM untuk melaksanakan kegiatan pembukaan yang dibimbing oleh pembina mapasuri Bapak Hermawan serta ketua umum mapasuri Mas Adamas,sebelum aku berangkat untuk mengikuti pembukaan aku dimintai tolong untuk ceklist alat dan barang-barang lain yang akan dibawa saat dikjut, setelah selesai aku menyusul ke gedung pdm. Setelah selesai Bapak Pembina, Senior dan anggota lain melakukan sesi foto,



setelah itu aku dan anggota lain bergegas membereskan peralatan yang dibutuhkan saat pembukaan. Selanjutnya aku dan anggota lainnya kembali ke sekre. Sesampainya disekre beberapa menit santai sejenak sembari mengeluarkan barang bawaan dan peralatan rafting,lalu menaikkan kemobil.

Sekitar pukul sebelas kurang,sudah sampai basecamp yang berlokasi di Tempuran Mas,Loano,Purworejo. Aku dan anggota lainnya serta senior membantu menurunkan barang dan membawa barang ke basecamp,anggota lain dan kakak senior sempat mengobrol ringan membicarakan untuk devisi lainnya berangkat kapan, lokasi dimana, mengantar dan menjemput dll. Dibasecamp aku dan lainnya bertemu langsung oleh pemilik-nya tak lupa salam tegur sapa diucapkan,selanjutnya barang – barang dirapikan,beberapa menit kemudian sosbud, aku dan anggota lainnya berpisah dibagi 2 tim laki-laki dan perempuan, dirasa cukup untuk sosbud aku dan lainnya balik ke basecamp untuk ishoma, selesai ishoma kami pemanasan terlebih dahulu biar tidak cidera dan lain sebagainya dilanjut mengambil perahu untuk praktek langsung disungai, oiya tak lupa sebelum dan sesudah kegiatan alat-alat diceklist wajib hukumnya yaa..hhehe. Oiya kami kedatangan tamu mas Gobi,mas Jengkol dan Perwakilan dari anggota kodim.

Praktek dihari pertama OGP (Olah Gerak Perahu) disini dibagi menjadi 2 tim, sebelumnya ditanyakan dulu oleh instruktur Ikhsan untuk pendayung kanan dan kiri.

Tim Pertama terdiri Instruktur Dhea,Rekha dan Desy, tim Kedua terdiri Instruktur  ikhsan,aku(Erla) Bagas dan Syarif. Disini diajarkan cara mendayung yang baik dan benar itu seperti apa,lalu dilatih kekompakan, teknikapa yang digunakan saat akan up,down stream,lalu flip flop.

Awalnya aku tak paham mengenai flip-flop itu apa dikarenakan aku tidak berangkat materi ruang, tidak mengikuti pengarungan, saat praktek baru paham dan ada kejadian yang menguji nyawa. Entah kenapa disaat praktek flip dari beberapa kali saat itu juga aku masuk kedalam perahu dan ada perasaan trauma kalau disuruh flip flop,waktu bergitu cepat hingga pukul 16.00 WIB kami naik ketepian sungai untuk membersihkan,dan ceklist alat lalu dikembalikan,kemudian  ishoma dan mck dibarengi makan malam,selesai makan evaluasi dimulai banyak yang kurang dari segala hal baik penerapan dilapangan,kurangnya sadar akan waktu tidak cekatan dll,evalusai selesai dilanjut briefing dan review materi,saat itu berlangsung mataku tak kuat menahan rasa kantuk,tidak fokus, jam menunjukan pukul 22.00WIB baru selesai. Aku langsung tidur sebagian anggota lainnya dan instruktur belum tidur. Saat evaluasi berlangsung kami kedatangan tamu mas Adamas, mas Agung, mas Jamal dan mbak Eva

 jum'at 19 Maret 2021




Pagi-pagi sekali aku dan anggota lainnya bangun untuk masak dan siap-siap untuk ganti pakaian dan ada yang membangunkan instruktur agar bangun, lalu sarapan bersama. Selesai sarapan lanjut pemanasan,pemanasan hari ke dua berbeda dari hari pertama,lebih digembleng lagi oleh masPanji.

selesai pemanasan ceklist list alat sekali lagi yaaa...wajib hukumnya sebelum dan sesudah penggunaan alat di cek terus. Saat peralatan sudah dan siap di sungai, aku dan anggota lainnya sempat di teriak-i bukan si lebih tepatnya dinasehati untuk lebih cekatan dsb, pelatihan kedua mempelajari OGP,flip-flop, self rescue dan renang jeram. Nah berhubung ini hari Jum'at praktek-nya 2 kali yaa,dilanjutkan setelah sholat Jum”at.Sementara laki-laki shalat Jum'at untuk perempuan memasak dan sosbud. Kebetulan aku dan Desy sosbud. Sosbud kita kali ini ada di Desa Tlepo,Loano narasumbernya sanggat ramah dan suka cerita, beliau memberikan minuman dan makanan ringan. Disisi lain aku ingin makan makanan ringan tersebut tapi apalah daya durasi-nya terbatas,Aku hanya melontar kata itu sambil bercanda dengan Desy. Dilanjut latihan OGP sudah berjalan beberapa jam,lalu gantian praktek flip-flop disini aku merasa sedih ya takut,takut masuk kedalam perahu lagi dan susah naik perahu,butuh tenaga extra bagiku untuk naik saat belum berhasil rasanya pengen nangis yaa tapi gak jadi nangis soalnya bisa naik perahu hahaaha meskipun waktunya lamaa sekalii. OGP sudah,Flip-flop sudah dilanjut self rescue dan renang jeram bagiku semua itu tantangan dan harus menyiapkan nyali karna apa??aku panikan hihihii. Saat renang jeram dilakukan biasalah air masuk kemulut,helm miring sana sini hingga wajahku tak terlihat karna apa?kegedaan helm-nya dan mungkin kurang kencang mengkaitkan talinya. Tak terasa sudah sore saja waktunya untuk bersih-bersih alat ceklist dan dikembalikan. Balik basecamp Ishoma dan mck selesai itu makan malam,dilanjutkan evaluasi,dipertengahan evaluasi berlansung kami kedatangan tamu lagi yaitu mas Budi dan mas Agung, mereka bermalam di basecamp kami, lanjut review materi, briefing banyak bahasan untuk teknik-teknik mendayung dll. Selesai itu beristirahat untuk tidur. Aku tidur lebih awal karena sadar akan energi yang dibutuhkan banyak sangat sayang sekali kalo waktunya disia-siakan untuk tidak tidur lebih lamaa hehe.

 

Hari / Tanggal : Sabtu,20-Maret 2021

Hallo pagi-pagi sekali aku dan anggota lainnya saling membangunkan dan bangunnya jauh lebih awal, hingga sarapan pun jadi maju. Oiya tak lupa setelah sarapan kami melanjutkan pemanasan, hmmm ini pemanasan double gokil si. Iya bagaimana tidak kami disuruh berlari lumayan jauh itupun tak boleh berhenti. Selain lari pemanasan-nya ada push-up, sit-up, back up,plang tangan kanan kiri hingga plang perut dll dipandu oleh mas Panji.




Setelah selesai kami bergegas mengambil peralatan yang akan dibawa untuk pengarungan ditaruh dimobil, tak lupa ceklist alat.

 

Perjalanan menuju penungkulan ada moment dimana saudara kami yang bernama Desy hampir mau muntah hheu itu lucu si, tapi bisa diatasi dan akhirnya tidak muntah,padahalsudah dekat dengan lokasi pengarungan. Sesampai di penungkulan peralatan di turunkan, diceklist dan kami berbagi ada yang sosbud.Sosbud yang bertugas kebetulan Aku dan Rekha, sayang sekali hanya menemukan satu narasumber saja dan dengan waktu terbatas kami sesegera mungkin menanyakan dengan singkat dan kembali ke lokasi pengarungan dengan tergesa-gesa. Sayang sekali untuk mas Budi dan mas Agung hanya bisa menemani sampai di sini tidak bisa ikut,tapi tidak apa-apa, kami berkumpul untuk dilakukan doa bersama dan pengarungan pun dimulai...

Yuhuu rasa deg-degan dan was-was menghantui ku,namun aku berusaha tenang, dayungan demi dayungan arus demi arus ku lewati hingga tiba momen dimana perahu yang ku naiki hampir terbalik kemasukan air,perahu hampir terbalik 2 kalinamun bisa dihandle, suasana hatiku tak karuan dan panik karena arusnya besar dan cepat, ada insiden patah dayung bagian Blade, disamping itu beberapa kali perahu kami melewati pohon bambu yang menjulang kearah sungai,beberapa kali kami melakukan flip-flop. Aku mendapat giliran untuk flip-flop namun,beberapa kali aku mencoba flip karena kendala tidak bisa terbalik dan beberapa kali flop,banyak kesulitan yang aku alami tapi tak apa karena itu sebagai pembelajaran dan pengalaman. Ada moment antara kasian, lucu, dan bikin deg-deg an, yaitu saat tim kami sedang mendayung,entah bagaimana perahu tim pertama lepas, Desy berusah mengejar dengan tertatih-tatih berenang, lalu berjalan diperairan dangkal hingga sepatu yang dikenakan hilang sebelah,hihi saking deresanya arus  yang dilewatinya, sementara itu perahu dikejar oleh instruktur ikhsan dan perahu terselamatkan,Yeyyy. Dilanjut pengarungan lagi,arus demi arus kulewati hingga waktu istirahat tiba, kami makan bersama-sama beralaskan daun pisang,sebelum makan dimulai kami berfoto bersama. Setelah selesai kami melanjutkan dayung dimana kami akan melewati dam. Yaak itu sangat memacu adrenalin menurutku, tim pertama lancar tanpa ada yang jatuh,untuk tim kedua yaitu tim ku, sebelum menuju dam instruktur mengingatkan agar kuncian kaki dengan benar agar tidak terjatuh hingga byurr. 




 Pukul 15.00 WIB kami sampai di Sungai Bogowonto dimana itu titik akhir dari pengarungan,selesai dari pengaplikasian kami menepi  dan mengakut perahu,alat-alat lain hingga dinaikkan dimobil dan kembali menuju sekre.

Itulah akhir perjalanan pengarungan ku, aku senang bisa mengikuti-nya, kuharap ilmu yang kudapat dari pengarungan ku praktekkan kembali suatu saat nanti.

Terimakasih sudah menyempatkan diri kalian untuk membaca kisah ku.

Thursday, 4 February 2021

benarkah gunung lawu mistis?! cerita pendakianku di gunung lawu

      hai sobat alam...

    balik lagi ni bareng aku mardhi, untuk kesekian kalinya kita ketemu lagi di cerita perjalananku, kali ini aku akan menceritakan pada teman temen tentang cerita pendakianku taun lalu ke gunung lawu, sekaligus di cerita ini aku akan meriview jalur pendakian biar bisa dijadiin referensi buat teman" yang akan mendaki gunung lawu.

     pedakianku ini sebenarnya sudah aku rencanakan jauh jauh hari sebelum akhir taun lalu, bahkan aku sempat dua kali merencanakan sejak bulan oktober lalu tapi karna satu dan lain hal rencana itu gagal terlaksana. kebetulan sekali awal desesmber kemarin ada ardi kawanku yang mengajak unutuk mendaki ke gunung lawu, pada saat itu kita berencacan akan mendaki bersama tiga teman lainnya dan sepakat untuk berangkat pada tanggal 27 desemer, satu minggu sebelum berangkat kami masih  melakukan obrolan obrolan terkait persapan pendakian, dan tiba saat hari yang direncanakan tiba tiba entah apa penyebabnya dua temanku membatalkan niatnya untuk ikut mendaki gunung, bagaimana aku tidak geram? disaat akan berangkat justru tiba tiba kedua temanku ini membatalkan dan memutuskan untuk tidak jadi ikut. 

    setelah berunding akhirnya aku dan seorang temanku ini memutuskan untuk tetap beangkat walaupun hanya berdua. singkat cerita kami memutuskan mengundurkan sehari waktu keberangkatan dikarenakan untuk memantapkan persiapan sebelum memulai pendakian. esoknya, 28 desember kami bersiap untuk berangkat, pukul setengah satu siang kami berangkat berboncengan menaiki motor menuju basecamp. di perjalanan kami saling bergaintian untuk mengendarai motor di depa, beberapa kali kali kami sempat berhenti untuk istirahat sekaligus menunaikan sholat, pukul xx kami berhenti di mushola daerah klaten, pukul xx kami berhenti lagi di solo unutuk istirahat juga sekaligus sholat. saat sampai di xx hujan mulai turun, tetapi waktu itu tidak sampai hujan deras hanya rintik rintik gerimis kecil dan jalanan yang basah sisa hujan yang baru saja reda. 

    kami sampai di bc sekitar pukul setengah delapan, lebih lama dari waktu perkiraan. yaa.. hal itu disebabkan karena keadaan jalan yang galap ditambah hp kami tidak ada singal sehingga  kami tidak bisa membuka gglmaps mengakibatkan kami sempat tersesat sampai masuk ke kebunteh " wahh ini ngga beres.. dalam hati aku menggerutu. bisa bisanya kami tersesat sampai tengah kebun teh yang sepi dan jarang rumah seperti ini" tanpa pikir panjang kami pun langsung putar balik, dan untungnya  kami menemukan jalan yang seharusnya untuk menuju basecamp.kami berencana akan menginap semalam di bc untuk mengistirahatkan badan dan akan beragkat esok harinya.

    sembari kita istirahat di basecamp kita memasak mie instan untuk sekedar mengganjal perut. setelah kami selesai makan dan setelah istirahat dirasa cukup kami berniat langsung tidur. belum sempat kami tidur, ada dua orang pendaki yang baru sampai di basecamp dan kebetulan dia istirahat tepat disebalh kami, "wah kebetulan sekali, mungkin bisa saya tawarkan untuk mendaki bersama" ucap saya dalam hati. tak lama kemudian saya sodorkan segelas kopi kepada mereka untuk sekedar menghangatkan suasana dan agar kita bisa memulai obrolan. "dari mana mas?" tanya saya. sungguh basa basi yang basi sekalii..

    gara gara kita tidur terlalu larut, akibatnya kita bangun terlalu siang. seperti apa yang dikatakn oleh dzawinn,, bangun pagi adalah hal ayng fanaaa!.. yhaa,, pukul delapan kita baru bangun, disaat teman teman yang lain sudah mulai tracking justru kita baru bangun dari tidur. setelah kita bangun dari tidur kami langsung memasak untuk sarapan dan mengemas barang-barang bawaan yang kita bawa. pukul sembilan kita regristaasi dan mulai tracking. di perjalanan kami sembari ngobrol untuk menghilangkan rasa lelah saat perjalanan, setelah kami berjalan kurang lebih selama 20 menit kami sampai di cadi ketek.kami disana berhenti sembari istirahat. selang bebrapa menit kami melanjutkan perjalanan

Sunday, 24 January 2021

Basic Training Mapala Surya Rimba Angkatan XXII "Buang Perbedaan, Satukan Kebersamaan, Kuatkan Persaudaraan"

    MAPALA SURYA RIMBA belum lama ini telah menyelenggarakan sebuah agenda tahunan yaitu kegiatan basic training angkatan ke-22 tahun 2021. Kegiatan terselenggara selama tiga hari yaitu pada tanggal 15-17 Januari (Jumat-Minggu) di lokasi area goa Seplawan. Kegiatan berhasil terselenggara setelah sebelumnya mengalami beberapa kendala. Mulai dari masalah birokrasi, masalah tempat, dan beberapa kendala lainnya. Namun pada akhirnya kegiatan dapat terselenggara dengan baik dan lancar. 

Pesrta basic training Mapala Surya Rimba angkatan XXII

  Peserta basic training berjumlah 16 anak,  dengan jumlah masing masing 10 anggota putri dan 6 anggota putra. Jumlah ini terkurasi melalui beberapa rangkaian seleksi yang diadaka. Mulai dari technical meeting, training center yang diadakan seminggu sebanyak tiga kali, materi ruang empat divisi, dan beberapa seleksi turut dijalani sebelum mereka mengikuti kegiatan basic training.

Pembina Mapala Surya Rimba (bpk. Hermawan, M.Pd. I) sedang memberkan materi dan arahaan kepada peserta basic training

 Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri langsung oleh pembina mapasuri  bpk.Hermawan, M.Pd. I beliau memberikan pesan kepada peserta bahwa kita tetap harus beraktifitas walaupun di tengah pandemi dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ada, dan juga beliau menekankan untuk tetap menjalankan ibadah pada saat kegiatan berlangsung. Kemudian dilanjutkan materi keorganisasian yang diisi oleh saudara Usman Azis dan Adamas Hamid A selaku ketua umum Mapasuri.

Peserta sedang mengaplikasikan materi pembuatan api

Prosesi pelantikan peserta basic training Mapala Surya Rimba

    Kemudian setelah pembukanan selesai dilanjutkan dengan pemberangkatan peserta menuju lokasi kegiatan, setelah sampai dilokasi peserta langsung mengikuti kegiatan sampai tanggal 17 Januari. Di hari terakhir kegiatan ditutup dengan pelantikan peserta basic training menjadi anggota muda Mapala Surya Rimba, dan juga dilanjut dengan sesi foto bersama.

    "melalui kegiatan basic training tersebut saya berharap semoga seluruh peserta bisa mengambil pelajaran positif yang ada, dan semoga hal tersebut bisa menjadi bekal untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik."_written

 


     

Saturday, 26 December 2020

Cerita Perjalanan : Latihan Navigasi, Sar, dan PPGD di Gunung Sumbing. (part 2)

    jreng..jreng.. balik lagi ni bareng aku di cerita perjalanan

    Setelah sebelumnya menunggu beberapa hari lalu, akhirnya aku balik lagi ni buat lanjutin ceritaku saat kagiatan di gunung sumbing. Di part dua ini aku akan bercerita mulai dari proses pemberangkatan kita sampai kegiatan di gunung sumbing. Penasaran dengan ceritanya?. simak langsung 

Jumat 4 Desember 2020

    Keesokan harinya aku bangun dari tidurku yang sebenarnya aku merasa tidak begitu nyenyak sama sekali dalam tidur semalam. Ya,, dikarenakan aku mempersiapkan kebutuhan alat-alat untuk kegiatan, aku tidur sekitar pukul setengah dua belas malam untuk mempersiapkan alat demi kelancaran kegiatan di hari esok. karena malamnya aku tidur terlalu larut alhasil bangunpun jadi kesiangan, aku bangun pukul setengah sembilan siang. Walaupun aku bangun sudah kesiangan, aku rasa kurang lengkap dong kalo bangun tidur belum ngopii, akhirnya aku putuskan untuk meminun secangkir kopi panas terlebih dahulu sambil ngobrol-ngobrol santay hhe. Gara-gara aku terlalu menikmati kopi dan terlarut didalam obrolan yang begitu asik, tanpa sadar waktu sudah menunjukan setengah dua belas siang dan suara adzan dari masjid-masjid pun mulai bersautan, aku lantas langsung mandi dan bergegas menuju masjid untuk menunaikan sholat jum'at. 

    Selepas sholat jumat selesai, aku dan teman-teman berkumpul di rumah salah seorang senior, di sana kita melakukan final checking atau pengecekan alat untuk terakhir kalinya sebelum kita berangkat menuju basecamp sumbing, hal ini kita lakukan untuk meminimalisir peralatan agar tidak ada yang tertinggal, penting ni buat temen-temen yang akan mengadakan pendakian agar selalu mengecak barang bawaan. Setelah pemeriksaan barang dan setelah semua tertata dengan baik di dalam carrier, kemudian kita bersiap menuju kampus plaosan untuk mengadakan apel dan pelepasan sebelum pemberangkatan dimulai. Setelah semua bersiap di kampus plaosan, apelpun dimulai dan apel berjalan dengan lancar.

    Setelah apel selesai dilaksanakan, kami kemudian menata carrier dan barang bawaan lainnya di atas motor. Setelah semua siap dengan motornya masing-masing kemudian kami berangkat menuju basecamp sumbing, kami berangkat pukul 15.15 WIB dari kampus menuju basecamp. Saat di perjalanan kami sempat beberapa kali saling tertinggal satu sama lain, dan sesekali kami berhenti sejenak untuk menunggu teman yang tertinggal dari rombogan. Saat sudah sampai di daerah butuh, tiba tiba hujan turun tanpa diduga-duga, kamipun memilih untuk menepi di teras rumah warga dan memakai mantol, ketika kami sudah selesai memakai mantol dan bersiap akan melanjutka perjalanan justru hujan menjadi reda. "ahh sudalah.. sudah kepalang tanggung," akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan ke basecamp dengan tetap memakai mantol. Satu jam lebih perjalanan tak terasa, karena di perjalanan kami sembari menikmati pemandangan perkebunan dan pemandangan khas pegunungan lainnya yang begitu indah. 

    Pukul 16.27 akhirnya kami sampi dibasecamp sumbing via kaliangkrik butuh. Setelah sampai kita istirahat sejenak dan merapihkan barang" bawaan di dalam basecamp, setelah beristirahat melepaskan lelah, teman-teman kamudian melakukan sosbud ke warga setempat,, dan tau aku ngapain..? jaga alat di basecamp:v hadehh.. Sembari aku menjaga alat, aku menceklis alat alat yang dibawa. Sore pukul kami 17.45 istirahat dan makan malam, pukul 19.02 kami lanjut review materi untuk kegiatan besok. 

    Disela sela review materi berlangsung kami mengurus registrasi terlebih dahulu dan juga mengelis semua lagistik yang kita bawa. Hal ini penting sobb,, cara ini dilakukan agar semua kemasan makanan yang dibawa naik oleh para pendaki dapat dibawa turun sejumlah yang mereka list dan mereka bawa saat mereka naik, terutama kemasan dan sampah plastik lo yha. Tapi tak jarang lo sob, pendaki yang terkena hukuman akibat mereka lalai dan meninggalkan sampahnya saat pendakian. Mereka yang melanggar aturan akan dikenai hukuman soob, mulai dari push up, denda uang, sampai mereka disuruh naik keatas lagi dan mengambil sampah yang mereka telah tinggalkan. Intinya sih hal ini dilakuin semata-mata agar temen-temen pendaki itu sadar, bahwa saat mendaki gunung kita juga harus menjaga kebersihan dan kelestarian alam, agar kita tidak semena-mena merusak dan mengotori alam dengan kita meninggalkan sampah saat melakukan pendakian. Setelah selesai melakukan registrasi, malam itu ditutup dengan breefing untuk kegiatan besok pagi, setelah itu kita istirahat dan tidur.

Sabtu 5 Desember 2020

    Pagi-pagi sekali aku dan teman-teman bangun pukul empat dini hari. Disaat teman-teman dari rombongan lain masih terlelap tidur kita harus sudah memulai aktifitas. Ya,, hari itu memang basecamp penuh dengan para pendaki yang akan naik dan mereka menginap terlebih dahulu di basecamp. Setelah bangun kami langsung membagi tugas, ada yang memasak untuk sarapan, ada yang ceklist alat, dan ada yang packing carrier. Kemudian kami semua melakukan TC untuk meregangkan otot sebelum memulai pendakian, setelah itu kami langsung sarapan dan beriap untuk berangkat mendaki. Pada pukul 06.10 kami melakukan resection di depan basecamp. Setelah melakukan resection dan menemukan titik koordinat, kami melanjutkan dengan memulai tracking menuju pos 1.

    Pukul 07.20 kami memulai perjalanan dari basecamp menuju pos 1. Kami berjalan dengan formasi baris satu-satu dengan aku beada di barisan paling depan, beru  saja berjalan beberapa menit dari basecamp dan gapura selamat jalan masih jelas terlihat salah satu teman kami meminta berhenti, akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat, "jalan.. berhenti.. jalan.. berhenti.." sepanjang perjalanan terus seperti itu, sesekali kami berhenti untuk istirahat dan minum atau mungkin untuk hanya sekedar menghela nafas. Di tengah tengah perjalanan dari basecamp menuju pos 1, teman kami ada yang tiba tiba berhenti dan muntah-muntah, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat kembali, kami memberi dia minuman hangat dan sedikit roti untuk menggajal perut. Setelah istirahat dirasa cukup dan terlihat temanku juga sudah terlihat pulih, kami melanjutkan perjalanan menuju pos satu yang tinggal sebentar lagi sampai.

    Setelah kami sampai di pos satu, kami langsung mengeluarkan peralatan navigasi dan memulai mengamati keadaan sekitar sebelum memulai recection, setelah peralatan semau siap kemudian kami melakukan ormed dan melakukan recection untuk mencari titik kotdinat tempat kita berada dan sekaligus sebagai titit awal kita berangkat untuk melakukan potong kompas. Setelah hampir satu jam  kita membidik kompas dan menghitung titik koordinat akhirnya kita menemukan titik kordinat tempat kami berada, setelah itu kami pun bisa bersiap siap untuk memulai potong kompas. Masalah timbul ketika jalur yang seharusnya kita lewati untuk potong kompas itu adalah lahan perkebunan warga, alhasil kami pun memutuskan untuk berjalan memutar dari jalur yang seharusnya. jika digambarkan kami berjalan memutar seperti halnya berjalan disisi lain garis miring sebuah segitiga siku-siku.


    Waktu menunjukan pukul sebelas lebih lima puluh tiga, akhirnya kita sampai di titik perputaran yang kita tuju, disini kami berhenti untuk istirahat juga sekaligus untuk sholat dan makan. Setelah istirrahat cukup lama, kami bersiap untuk melanjutkan aplikasi potong kompas, kami bersiap dengan tugas dan posisi masing. Dalam aplikasi potong kompas ini ada yang bertugas menjadi leader, shoter, pointer, rollman, logistik dan p3k masing masing dari tugas ini nantinya akan di roling secara bergantian. Kami mulai berjalan dari stasiun 0-1,1-2,2-3,... dan seterusnya, selama perjalanan kami sembari mengamati flora-flora dan fauna yang ada di sana banyak flora khas gunung yang kami jumpai mulai dari cemara gunung, pohon rasbery, dan lain lain. Floura disana juga cukup beragam mulai dari laba-laba, lebah sampai burung kerap kali kita jumpai di sepanjang perjalanan. Medan yang kami lalui hampir seluruhnya tanah berundak tapi tidak terlalu begitu curam. 

    Setelah cukup lama kita berjalan melakukan potong kompas dan setelah beberapa kali melakukan roling pergantian tugas, kami menjumpai lembah yg cukup dalam yang berada diantara stasiun 14-15. Demi keamanan kamipun memasang webbing yang kita kaitkan ke pohon cemara kemudian kami turun satu persatu menggunakan bantuan wabbing tersebut. Hal barusan tidak terlalu menjadi hambatan bagi kami, setelah melawati lembah tersebut kami langsung melanjutkan potong kompas kembali. kami melakukan potong kompas sampai stasiun 19, hanya berjarak beberapa ratus meter dari pos dua kami pun melanjutkan berjalan melalui jalur pendakian normal. 

    Setelah berjalan selama kurang lebih 35 menit kami pun sampai di pos dua. Keadaan di pos dua lumayan luas cukup untuk mendirikan empat sampai lima tenda dengan kondisi lahan yang memang  sengaja di buat datar untuk berkemah. sesampainya di pos dua kami istirahat sejenak, setelahnya kami langsung membagi tugas, dua orang mengambil air, tiga orang memasak dan sisanya mendirikan tenda sekaligus memasukan barang-barang bawaan kedalam tenda. Sayup-sayup suara adzan maghrib lirih terdengar, kami yang awalnya memasak diluar langsung bergegas memasukan alat alat masak kedalam tenda dan kemudian melanjutkan masak. Belum lama setelah kami selesai memasak hujan rintik-rintik mulai turun membasahi tanah dan pepohonan yang ada. Sembari menunggu hujan reda kami istirahat didalam tenda, mungkin karena badan sudah terlalu lelah sampai sampai kamipun tertidur. Pukul 17.50 hujan tak lagi turun dan mulai mereda, kami langsung menyantap makanan yang sebelumnya sudah kita masak, kemudian dilanjutkan review materi dan breafing. Pukul 21.30 breafing selesai kami pun istirahat dan tidur di tenda masing-masing. 

    Baru saja beberapa menit mata terpejam,terdengar suara gaduh diluar tenda. Alat-alat masak yang kami letakan diluar tenda secara tiba-tiba berbunyi, kami sudah panik mengira bahwa itu babi hutan karena kebetulan nugget yang kami bawa terletak di luar tenda. Setelah beberapa saat salah satu dari kami mengecek, ternyata itu bukan babi hutan, melainkan tikus yang mengais makanan sisa. Setelah itu karena kami merasa lelah kami memutuskan untuk melanjutkan tidur.

Wednesday, 16 December 2020

Mengenal Lebih Dekat dan Meneladani Kisah Hidup Seorang Aktifis Muda"Soe Hok Gie"


  Kekagumanku terhadap seorang sosok Soe Hok Gie berawal dari diriku yang tak sengaja menonton film biografinya yang berjudul GIE. Aku yang  kala itu masih duduk di bangku SMP langsung kagum melihat penggambaran tokoh di film yang saat itu juga diperankan aktor ternama Nicolas Saputra. Tak hanya mengagumi melalu filmnya, selang beberapa tahun saat aku beranjak ke bangku kuliah aku membeli sebuah buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran yang juga merupakan buku novel yang berisi kisah perjuangan Soe Hok Gie saat ia menjadi aktifis di usia muda hingga saat-saat terakhir sebelum ia menemui ajalnya di puncak gunung semeru. Itu hanya sedikit gambarang tentang kekagumanku terhadap Soe Hok Gie, tapi untuk lebih mengenal sosoknya aku akan membagikan kisah biografi singkat yang bisa teman-teman baca.

Biografi Soe Hok Gie

    Soe Hok Gie merupakan keturunan Tionghoa yang lahir pada 17 Desember  1942.  Ia adalah putra dari Soe Lie Pit atau dikenal dengan nama Salam Sutrawan seorang novelis, dan ibunya bernama Nio Hoe An. Dalam biografi Soe Hok Gie bahwa ia adalah anak keempat dari lima bersaudara, Soe Hok Gie merupakan adik dari Sie Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.

Masa kecil Soe Hok Gie

    Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djie sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman baca di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seorang peneliti, sejak masih sekolah dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya yang serius, seperti karya Pramudya Ananta Toer. Mungkin juga karna ayahnya seorang penulis, sehingga tak heran jika ia begitu dekat dengan sastra. Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk konisius, sementara soe hok gie memilih sekolah di sekoalh menengah pertama (SMP) strada di daerah Gambir.

Masa remaja Soe Hok Gie

    Konon ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan cerpen Pramudya: "..Cerita dari Blora". Pada waktu kelas dua di sekolah menengah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi soe hok gie? ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah daripada harus duduk di bangku sekolah. Sebuah sekolah kristen protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang. Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA) kanisius jurusan sastra. Sedanhgkan kakaknya, Hok Djin, juga masuk sekolah yang sama, tapi lain jurusan yaitu ilmu alam. Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus ia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadara berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan yang menarik itu, tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Masa Kuliah di Universitas Indonesia

    Ada hal baik yang diukurnya selama ia menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kaka berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemudian kaka beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah, sedangkan Hok Djin mask ke fakultas psikologi. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktifis kemahasiswaan.

Kritis Terhadap Pemerintah

    Ketika kuliah di UI, ia banyak mengkritisi kebijakan Presiden Ir Soekarno. Selain itu ia juga banyak mengkritisi  mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kala itu sangat berkembang di Indonesia. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengkritik tajam rezim orde baru. Hal ini terlihat dari tulisan-tulisannya mengenai pembantaian masal terhadap anggota dan simpatisan PKI pasca G30S/PKI pecah. Ia menuliskan artikel "Di sekitar pembunuhan besar-besaran di Pulai Bali" yang kemudian diterbitkan oleh mahasiswa Indonesia Jawa Barat pada bulan Desember 1967. 

Dalam pemikiran Soe Hok Gie, ia mengkritisi cara-cara pemerintah orde baru yang menindak anggota dan simpatisan PKI dengan cara-cara diluar kemanusiaan. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstran tahun 66 mengkritik dan mengkutuk para pejabat pemerintah kemudian selepass mereka lulus mereka berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie merupakan bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Pendiri MAPALA UI yang Hobi Naik Gunung

    Soe Hok Gie diketahui merupakan salah satu tokoh pendiri UI. Salah satu agenda pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian Gunung Slamet 3.442mdpl, ia mengutip Walt Whitman dalam catatn hariannya "...Now I see secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth". Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran pikiran tentang kemanusiaan tentang hidup, cinta, dan juga kematian. Dalam biografi Soe Hok Gie diketahui bahwa pada tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan melanjutkan menjadi dosen di Almamaternya. Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukan gunug Semeru yang tingginya 3.676mdpl. 

    Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: "...Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya dengan slogan. patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. karena itulah kami naik gunung".

 Wafatnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru

    Tanggal 8 Desember sebelum Soe Hok Gie berangkat sempat menulis catatannya : "...Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengan kematian Kian Fong dari Arief minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngibrol rumit sebelum ke semeru. Dengan Marai, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kiang Fong yang begitu aneh dan begitu cepat". Hok Gie meninggal di gunung Semeru pada tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahun yang ke-27. Penyebab kematian Soe Hok Gie akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. 


       Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahu 1975 Ali Sadikin membungkar pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebar di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di gunung Pangrango. 

    Berikut merupakan Sedikit kisah hidup dari Soe Hok Gie semoga dapat menginspirasi buat teman-teman pembaca. 

 

 

Sumber : Biografiku




Cerita Perjalanan : Latihan Navigasi,SAR, dan PPGD di Gunung Sumbing. (Part 1)

Haii sobat alam,, 

        Sebelumnya kenalin nih, namaku Mardhi aku seorang mahasiswa peternakan semester 3. Aku tergabung di dalam UKM Mapasuri, yang saat ini aku dan teman-temanku akan mengadakan kegiatan pendakian. Tapii, ini bukan pendakian biasa lhoo tentunya,, kali ini kita akan mengaplikasikan beberapa materi yang kita dapat di mapala. Kita akan mengaplikasikan materi Navigasi yaitu potong kompas, SAR (serch and rescue), dan juga PPGD (Penanganan Pertama Gawat Darurat). Sebelum aku lanjutin ceritanya pastiin kalian simak baik-baik yhaa, karna akan ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa kalian dapet di ceritaku ini.. stayy tune.. 

        Okeyy,, aku mulai ceritaku ini dari h-1 pemberangkatan yaa. Dikarenakan aku di dalam tim ini sebagai logistic, intinya yg ngurusin semua kebutuhan alat-alat yang bakal dibutuhin mulai dari tenda, alat masak, sampai alat-alat yang bakal kita gunain nanti saat aplikasi. H-1 sebelum kegiatan aku mengelist alat–alat yang dibutuhin saat besok pendakian. aku membagi menjadi dua macem nih, pertamma alat kelompok kedua alat pribadi. sesuai yg aku jelasin sebelumnya karena disini aku sebagi logistic aku mempersiapkan segala peralatan kelompok, nah buat alat-alat pribadi aku serahin deh ke temen-temen buat mencari kebutuhan alatnya masing-masing, “gampang kann hhe”.


        Oh iya,, dikarenakan alat alat yang kita miliki terbatas, jadi untuk kebutuhan beberapa alat kami meminjam dari senior dan juga dari organisasi pecinta alam lainnya. Untuk keperluan alat kelompok seperti alat masak, gas, peta, kompas dan alat lainnya gaada masalah ni, tapi untuk tenda kita aga kesulitan mencari pinjaman kesana kemari. Akhirnya saya meminjam tenda ke salah satu senior, ke sispala bimawa dan satu lagi kita pake punya kita sendiri mapasuri, 0o iyha btw kita emang bawa 3 tenda yha, satu untuk peserta cowo, satu untuk peserta cewe, dan satu lagi untuk instruktur. 

        Setelah kita dapet semua tenda, kita cek terlebih dahulu tenda yang akan kita bawa satu persatu, pertama kita cek tenda punya mapasuri, dan.. amann.. walaupun ada beberapa freme tenda yang awalnya patah tapi bisa kita akalin lahh hhe. kemudian kita cek tenda yg kita pinjam milik senior, kita buka, kita diriin tendanya dan.. aman juga, dua tenda udah kita cek dalam keadaan normal dan keadaan baik. tinggal tenda yang terakhir nih.. kemudian kita lanjut cek, kita buka tendanya, kita cek framenya, dan.. saat kita akan memasang dan memeriksa frame, ternyata salah satu frame tenda yang kita pinjam tidak ada, yang pada akhirnya tenda yg sudah kita buka dan kita bentangkan gagal kita dirikan. Aku mencoba menghubungi orang terkait yang kita pinjam tendanya bermaksud untuk konfirmasi, ternyata benar saja, tenda yg kita pinjam sudah lama tidak dipaikai dan tidak dicek kelengkapannya. 

        
        Akhirnya kita memutuskan tidak memakai tenda yang satu ini. Karena kita sudah mencari tenda untuk pengganti tenda tadi yang tidak jadi kita pakai dan tidak menemukan pinjaman lagi, pilihan kita berakhir pada tenda single layer yang pada awalnya justru tidak akan kita bawa, . Tapi karena keadaan yaa..sudahlah. Sekedar informasi ni temen-temen, tindakan kami menggunakan tenda single layer sangant tidak patut dicontoh yaa.. Kerena tenda single layer bisa dibilang kurang recomendasi seperti tenda double layer, tenda single layer kurang mampu menahan udara dingin dari luar, pakailah tenda double layer yang mampu menahan udara dari luar dengan baik, okeyyy.. 

       Sekian dulu cerita perjalananku kali ini, ini baru part 1 ya.. Masih ada cerita-cerita menarik dan seru di part 2, nanti kita lanjut di part dua yaa.. byee

Tuesday, 8 December 2020

CERITA PERJALANAN : PEMETAAN DAN EXPLORE GOA SIBODAK DAN GOA SEMAR


    Assalamualaikum,, sebelumnya perkenalkan namaku Dhea Wahyu Yulia Putri aku mahasiswa program studi Bahasa Indonesia semester tiga, yang kebetulan aku bergabung di UKM MAPASURI.

   Kali ini aku akan membagikan kisahku dan teman-teman mengikuti salah satu kegiatan di Mapala yaitu kegiatan susur goa. Pada tanggal 20 November 2020 aku dan teman teman berangkat menuju basecamp. Kali ini kami akan memasuki goa Sibodak dan goa Semar yang berlokasi di Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Setelah perjalanan 40 menit, kami sampai di basecamp dan langsung membereskan peralatan dan bersiap-siap untuk pelaksanaan besok pagi, setelah itu melanjutkan review materi dan kemudian kamipun beristirahat, karena cukup excited aku kesulitan tidur karena membayangkan bagaimana besok ketika aku masuk kedalam goa.

Proses saat menuruni goa sibodak

     Memasuki hari pelaksanaan tanggal 21 November aku bangun pukul lima pagi, setelah itu lanjut TC dan juga sarapan. Pagi itu aku sangat bersemangat kerena di hari pertama akan masuk ke goa sibodak terlebih dahulu. Sekitar jam 8 kami berangkat menuju lokasi dengan berjalan kaki dan sampai di lokasi pukul 08:15. Setelah sampai di lokasi rasa semangat dan excited tiba-tiba meredup, rasa itu berubah menjadi rasa gelisah gundah membuat jantung tak berirama. Ternyata kedalaman goa tersebut sekitar 25m dan itu vertikal. Setelah peralatan dipasang aku menunggu giliran untuk masuk kedalam goa, tanpa disadari setelah menunggu cukup lama tiba giliranku. Saat memakai set SRT aku belum merasa takut, tapi saat sudah berada di mulut goa rasa takut itu bertambah menjadi 100x lipat lebih besar, apa lagi saat akan melepas kuncian. Untuk mengatasi rasa takut, aku mencoba meyakinkan diri agar cepat segera turun dengan berbisik di dalam hati, " ayoo.. bisaa dibawah nanti bertemu jodoh". Akhirnya setelah beberapa menit aku sampai di dalam goa, selanjutnya aku dan teman-teman melanjutkan latihan pemetaan goa. Suasana di dalam goa gelap, berlumpur, banyak terdapat kelelawar, ada beberapa hewan, dan juga terdapat beberapa fosil. Disana juga terdapat banyak ornamen yang menakjubkan. 

    Setelah selesai pemetaan aku dan teman-teman bergegas untuk naik kembali karena keadaan hujan dan sudah sore. Saat tiba giliranku naik, aku bergegas untuk memasang alat dan naik ke atas, ketika sudah di tengah lintasan aku merasa cukup lelah dan memotivasi diri "ayo bisa.. cepat naik.. diatas ada jodoh dan ayam geprek..". Setelah berhenti beberapa menit aku lalu melanjutkan naik keatas. Saat akan memegang ujung tali aku kesulitan untuk naik dan memasang pengaman tapi dengan sekuat tega akhirnya berhasil dan bisa naik dengan selamat. Setelah semua naik aku dan teman-teman membersihkan alat dan bergegas menuju basecamp. Sampai di basecamp sekitar 18:10 keadaan disana hujan deras, ada yang membersihkan alat dan ada yang memasak untuk makan malam. Jam 19.30 malam dan dilanjutkan briefing, setelah itu aku dan teman-teman istirahat.

Moment saat akAn memasuki goa sibodak  
    

 Hari kedua pelaksanaan tanggal 22 November 2020 diakibatkan kelelahan dan udara yang cukup dingin aku bangun terlambat pukul 05.30, namun tidak hanya aku tapi hampir semua kesiangan termasuk korlap yang biasanya setiap pagi membangunkan peserta dengan suara merdunya hingga kami mampu terbangun dari indahnya mimpi. Seperti biasa di pagi hari diawali dengan TC  dan sarapan selanjutnya kita berdoa sebelum berangkat ke lokasi. Kali ini aku akan memasuki goa Semar yang terletak di Desa Tlogoguo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Aku dan teman-teman berangkat kesana menggunakan sepeda motor karena lokasi cukup jauh sekitar 15 menit dari basecamp. Setelah dilokasi kami langsung mempersiapkan peralatan dan siap-siap untuk masuk. Saat itu di hari pertama dan kedua aku menjadi pointer, aku yang berada di depan saat pemetaan berlangsung. Lokasi didalam goa semar berair, gelap, terdapat kelelawar dan hewan kecil lainnya. Sama seperti goa lainnya goa semar memiliki banyak ornamen yang menakjubkan dan indah. Saat pemetaan berlangsung terdapat chamber yang mengharuskan aku sebagai pointer masuk kedalam hingga ujung untuk memaksimalkan hasil pengukuran. Saat itu aku berfikir chamber itu tidak dalam, namun setelah dipasang peralatan agar aku aman aku masuk kedalam chamber dan tanpa disangka kedalaman air tersebut hampir sebahu. Ketakutan mulai muncul, hati mulai tak tenang, dan aku mulai membayangkan "bagaimana jika ada buaya di dalam air?, bagaimana jika ada ular masuk kedalam bajuku?, bagaimana jika ada kalajengking masuk sepatu bootku?", dan bayangan tentang hewan hewan menakutkan lainnya. ditambah teman teman yang bertugas sebagai shooter sempat mengalami kendala karena leser meter eror  sehingga membuatku semakin lama berdiam didalam chamber. Setelah pemetaan selesai kami keluar dan bergeges menuju basecamp sekitar pukul 14.30. Sampai di basecamp kami membersihkan alat dan selanjutnya kembali ke kampus. 

    Demikian sedikit cerita pengalamanku saat masuk kedalam goa vertikal dan goa horizontal. Semoga dilain waktu dapat berkesempatan mengunjungi dan memasuki goa-goa lainnya. Sekian dan terimakasih telah membaca